Kalau Umat Islam Hidup Semata-mata Hendak Hidup

14 05 2007

Kalau umat Islam hidup semata-mata hendak hidup, semata-mata hendak mencari makan
Lebih-lebih lagi hidup fikir hendak senang
Ditambah lagi tidak takutkan Allah, lupa Akhirat karena hendak hidup
dia akan buat apa saja
Dia tidak fikir lagi halal dan haram
Yang penting dapat makan, bisa kenyang, kalau boleh dapat senang
Orang seperti ini kalau bisa makan, bisa senang dengan fitnah orang,
dia akan fitnah orang
Kalau bisa makan dan senang hasut orang, hina orang, tipu orang dia akan lakukan
Jika bisa makan dan bisa senang dengan suap, terima suap di akan amalkan
Sekiranya mencuri, merampok, meragut, membunuh bisa cari makan dan senang,
dia bisa kerjakan
Orang yang tidak fikir halal dan haram untuk hidup faktor besarnya,
tidak takut Allah dan kerana cari makan dan senang
Orang yang bersifat semacam ini paling tidak di hujung hidupnya dia akan kecundang
Boleh jadi di dalam perjalanan hidupnya akan terbuka tembelang
dan akan dihukum Allah
Di atas dunia lagi akan terhukum juga oleh Allah sebagai balasan
Sebelum dia dihukum di Akhirat oleh Allah
Bahkan orang yang seperti ini di dunia lagi hidup tidak karuan dan tidak tenang
Kalaupun senang makan minum, selalu sahaja mendapat bala
yang berbagai-bagai macam
Jika banyak duit Allah bala dengan fikiran tidak tenang, berserabut malam dan siang
Boleh jadi juga niat senang makan minum tidak kesampaian
Ingin senang tidak senang, ingin senang makan minum, tidak senang makan minum
Boleh makan minum, boleh senang, bergaduh pula suami isteri tidak berkesudahan
Perang rumah tangga tidak ada kedamaian
Begitulah kalau orang Islam tidak takut Tuhannya
Semacam itulah umat Islam yang hidupnya fikir makan minum dan hendak senang
Matlamat tidak sampai hanya kesusahan
Kalau sampai matlamat yang diidam-idamkan
Bala bencana pula yang selalu datang
Oleh itu kenalah takutkan Allah
Hidup hendaklah bersih daripada yang haram dan penzaliman
Takutkan Allah adalah ibu segala kebaikan
Termasuklah soal makan minum ada jaminan oleh Allah

Nukilan : Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi





“Politik”, Bukan Islam

14 05 2007

checkmate.jpgLebih dari 50 partai politik terbentuk di negara kita, Indonesia, yang berarti lebih dari 50 orang yang akan memperebutkan kursi sebagai presiden republik Indonesia dalam pemilihan umum. Ke 50 orang calon presiden itu apakah memiliki cita-cita yang sama untuk mebangun bangsa ini?. Akan dibawa kemanakah bangsa ini bila ke 50 calon pemimpinnya sudah saling berebut?, yang di dalam pelaksanaannya terjadilah saling jatuh menjatuhkan, hilang harga diri, hilang rasa hormat. Padahal sebagian dari mereka adalah tergolong ulama, ahli hukum, cendikiawan dan mereka yang menyebut dirinya pejuang Islam. Begitulah politik yang dikenal oleh umat Islam sekarang. Politik Barat, politik mayoritas. Bila kita tanya kepada kebanyakan tokoh politik Islam, mengapa mereka ikut serta dalam politik kotor Barat itu, mereka biasanya menjawab, “Tidak ada pilihan lain”. Ya, seolah-olah secara tidak langsung mereka menganggap Islam tidak mempunyai jalan sendiri dalam soal politik. Seolah-olah Islam tidak sempurna, ia kekurangan cara berpolitik walaupun rata-rata mereka mengaku Islam itu syumul. Rasulullah sendiri hidup ketika di zaman politik jahiliah menguasai dunia. Namun baginda tidak pun menyertainya. Tanpa membuat alasan konon tidak ada pilihan lain, baginda berjuang menampilkan politik Islam lalu membunuh politik karut itu.

Istilah politik asalnya dari bahasa Latin yang pada kebanyakan orang mengartikan sebagai perbuatan merebut kedudukan atau jabatan untuk memerintah negara. Bentuk dan sistem pemerintahan negara yang akan dilaksanakan setelah mendapat jabatan itu tidak diberi perhatian serius. Bahkan tidak diheboh-hebohkan sebagaimana dihebohkan kerja-kerja untuk mendapatkan jabatan. Berpolitik telah disalahartikan maknanya sebagai menyertai badan-badan politik untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Orang politik difahamkan sebagai orang yang ada partai politik atau menjadi ahli partai dan ikut serta dalam pemilu. Oleh karena arti politik mengikut pandangan umum ialah ikut sistem pemilihan umum untuk dapat berkuasa, maka matlamat(tujuan) mereka hanyalah hendak berkuasa. Oleh karenanya mereka menghalalkan segala cara untuk mencapau tujuan itu. Yang penting menang dalam pemilu itu.

Sebenarnya arti politik dalam bahasa Islam (Arab) adalah ‘siasah’. Dalam kamus, ‘siasah’ diartikan sebagai ilmu pembangunan (pentadbiran). Dengan kata lain, politik itu membangun. Atau dapat juga dikatakan politik itu memikirkan bagaimana hendak mewujudkan segala aspek pembangunan yang berkaitan dengan manusia, sama ada pembangunan insaniah maupun pembangunan material. Juga untuk membina ukhuwah dan kasih sayang antara sesama manusia, karena ukhuwah dan kasih sayang itu adalah asas (pokok) kemakmuran. Dan juga pembangunan yang sudah dapat diwujudkan itu dijaga dan diurus agar dapat dipertahankan dan kekal serta kalau boleh, diusahakan supaya terus berkembang maju. Supaya dengan itu berlakulah peningkatan tamadun rohaniah dan material dalam hidup manusia yang hasilnya memberi manfaat yang luas serta membawa berbagai-bagai kebaikan dan kemudahan kepada manusia. Terutamanya mewujudkan kasih sayang, supaya masyarakat aman damai dan harmoni. Begitulah mulia dan hebatnya apa yang diistilahkan sebagai politik atau siasah dalam Islam. Orang yang berpolitik dengan cara ini tidak akan berebut dan bergaduh karena jabtan tetapi berlomba-lomba untuk membuat kebaikan, apakah dia seorang menteri, penguasa atau tidak ada jabatan sama sekali.

Apa yang berlaku sekarang tidaklah sama seperti arti politik yang dicita-citakan menurut Islam. Politik yang diperjuangkan oleh para pejuang dan ulama-ulama Islam saat ini telah menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan kemenangan dalam perebutan jabatan. Bukan mereka tidak tahu cara-cara itu bertentanag dengan Islam, tetapi mereka halalkan semua cara itu dengan alasan tidak ada cara lain. Katanya lagi, nanti bila menang semua itu akan diharamkan semula. Begitulah mereka bermain-main dengan hukum Allah SWT demi mencapai kepentingan diri, bukan kepentingan agama Allah. Mereka mengambil sebagian hukum Allah dan menolak sebagian yang lain.

Politik barat yang kotor dan tersalah ini manalah bisa digunakan untuk dapatkan negara Islam, negara yang aman makmur dan mendapatkan keampunan Allah. Mungkinkah tercapai? Sedangkan kita semua maklum bahwa kebaikan itu hanya akan didapati dengan cara yang baik, melalui jalan-jalan yang baik. Air kalau di hulu sudah keruh, tentu hilirnya juga keruh. Kita perlu sadar bahwa politik yang kita fahami sekarang ini adalah politik yang membawa perpecahan umat, semakin kita buat semakin berpecah, banyak masalah, semakin banyak partai politik semakin berpecahlah umat, yang sesungguhnya politik ini adalah cara musuh Islam buat pecah belahkan umat Islam, sadarilah itu saudaraku.

Politik Islam apakah itu yang tersirat atau tersurat, zahiriah atau maknawiah, qat’i atau ijtihad, semuanya ada di dalam Al Quran dan Hadis. Untuk memulaukan politik Islam, kita tidak perlu lagi merujuk walau seinci pun kepada lain-lain agama atau ideologi. Segala-galanya tersusun indah dan terpampang dalam sejarah. Politik itu walaupun telah pernah punah dilanyak oleh politik Barat, karena kesalahan umat Islam sendiri, namun Insya-Allah ia mampu bengun semula. Ia akan sekali lagi menguasai dunia bersama kebangkitan Islam kali kedua yang sedang hebat melanda dunia kini. Amin ya Allah, ya Rabbal ‘Alamin.

Terima kasihku dan salam rinduku untuk Rasulullah SAW, guru-guruku khususnya Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi dan kedua ibu bapaku, juga mereka yang pernah berjasa kepadaku. Hamba yang mengharapakan keampunan Allah SWT. Salam …





Pengantar

9 05 2007

Bismillahirrohmanirrohim

Salam – Kebahagiaan hidup adalah satu perasaan. Tempatnya di hati manusia. Hati itulah yang merasainya. Kadang di kala fisik kita begitu lemah, akal letih, tetapi karena hati merasa bahagia, kita tetap merasa hidup ini bermakna. Begitu juga sebaliknya, bila keadaan fisik kita begitu bertenaga, akal segar, tetapi karena hati merana, kita rasakan hidup tidak lagi berguna.
Demikianlah hati memegang peranan penting yang cukup utama. Agar dalam apa jua keadaan hidup, jatuh bangun, hati tetap berada dalam ketenangan, suatu usaha mesti dilaksanakan. Bila hati tenang, sungguh kita akan dapat merasa sehat walaupun sakit, rasa kaya walaupun miskin, rasa senang walaupun dihimpit masalah. Tapi bila hati gelisah, orang yang belum rasa sakit, sudah rasa sakit. Belum miskin sudah rasa miskin, belum susah sudah rasa susah. Sesungguhnya hal itulah yang perlu diutamakan penjagaannya daripada penjagaan fisik dan mental. Sebab peranan hati lebih utama dari keduanya.

“Dalam diri anak adam itu ada seketul daging. ila baik daging itu, baiklah seluruh anggota jasad. Bila jahat dan busuk daging itu, maka jahatlah seluruh anggota jasad. Ketahuilah itulah hati” (HR Bukhari dan Muslim)

Wallahua’lambisshowab








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.